RANGGEUYAN MUTIARA : (1) ulah ngewa ka ulama anu sajaman (2) ulah nyalahkeun kana pangajaran batur (3) ulah mariksa murid batur (4) ulah medal sila upama kapanah - KUDU ASIH KA JALMA NU MIKANGEWA KA MANEH - Pangersa Guru Almarhum
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Oktober 2014

MENJADI INSAN YANG PANDAI BERSYUKUR

Manaqib - Dalam kitab /Shahihain/ disebutkan Nabi SAW senantiasa menunaikan shalat malam,  hingga membuat kedua telapak kaki beliau bengkak. Melihat hal itu, Siti Aisyah RA bertanya, "Mengapa engkau melakukannya, ya, Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang terkemudian?" Nabi pun menjawab, "Tidak bolehkah aku bila menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?" (HR Bukhari)

Kisah di atas penuh dengan nilai keteladanan. Rasulullah SAW yang memiliki kedudukan mulia di hadapan Allah SWT dan segenap manusia, tidak lantas berjumawa dan lupa diri. Sebaliknya, Nabi tak melupakan nikmat yang diberikan kepadanya, dan mensyukuri karunia Allah itu sepanjang waktu. 

Minggu, 03 Agustus 2014

DAKWAH NABI YUNUS BERJAYA KETIKA DIA MERASA TAK BERDAYA

Manaqib - Di antara hikmah yang selalu melekat pada setiap musibah adalah pertanyaan, “Apa kesalahanku sehingga cobaan ini menimpa?” Selanjutnya, memang kepekaan hatilah yang menentukan jawab dan tindakan yang akan diambil. Maka berbahagialah yang segera merundukkan diri di hadapan keagungan Allah , serta berlirih-lirih mengadukan kelemahan, kesilapan, dan kehinaan.

“Allah menciptakan manusia”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam Al Mustafaad min Qashashil Quran, “Dengan menggariskan baginya bahwa berbuat keliru dan jatuh dalam kesalahan adalah perkara yang mungkin, bahkan niscaya.” Tapi dengan kasihNya, Allah juga membukakan pintu agar dosa-dosa menjadi jalan kembali dan pelarian suci, tempat bersimpuh dan sandaran berteduh, mahligai yang syahdu bagi bermesra, meminta, dan beroleh karunia.

Selasa, 25 Maret 2014

MENGATAKAN 'TIDAK TAHU' TAK MEMBUATMU MALU

Manaqib - Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya sampailah ia ke tempat yang dituju. Tak sabar lagi baginya untuk segera menemui orang yang selama ini ia cari. Sosok yang selama ini membuat kagum orang-orang di kampungnya.

Kini ia sudah di hadapannya. Ia ajukan beberapa pertanyaan yang dititip orang-orang di kampungnya. Tapi, apa hendak di kata, dari enam puluh sekian pertanyaan yang dibawa, ia cuma bisa menjawab tiga pertanyaan. Sedangkan sisanya, hanya dijawab, “Allahu a’lam (Allahlah Yang Maha Tahu).” Ia pun kecewa. Sosok yang yang selama ini dielu-elukan orang-orang di kampungnya ternyata seperti ini keadaannya. Ia pun berkata, “Anda adalah Imam Malik, tapi Anda berkata, ‘Saya tidak tahu?!

Minggu, 23 Maret 2014

KISAH HIDUP TERINDAH

Manaqib -
“Makna senyuman tidak akan sempurna tanpa pernah bersentuhan dengan makna air mata, begitu juga sebaliknya. Indahnya kehidupan tidaklah terletak pada seberapa lama kita berada dalam zona yang menyenangkan, melainkan pada nilai yang kita pegang teguh dan kita capai dalam setiap episode, termasuk episode yang melambangkan penderitaan.”


Kisah Nabi Yusuf dinyatakan Allah sebagai kisah terindah (ahsan al-qashash) karena episode kehidupannya sangatlah lengkap mulai dari ujian menuju pujian, dari cinta bertepuk sebelah tangan sampai cinta bak gayung bersambut, dari terhina menjadi mulia, serta mulai dari hal yang biasa menjadi hal luar biasa.


Minggu, 26 Januari 2014

KERINDUAN DARI PERSIA

Manaqib - Aku berasal dari Persia, tepatnya Ashfahan. Ayahku adalah seorang yang kaya-raya dan ternama. Aku orang yang paling dicintainya di dunia ini. Bahkan saking cintanya, aku tidak pernah diperbolehkan keluar dari rumah. Aku penganut agama Majusi yang sangat taat. Aku mengabdi kepada api, tidak pernah aku membiarkannya redup barang sebentar.


Perjalanan hidupku sangat panjang dan berliku hingga aku bisa seperti ini sekarang. Perjalanan itu bermula pada suatu pagi. Pagi itu ayahku sibuk hingga tidak bisa menengok kebunnya yang luas. Aku diminta untuk menengoknya. Kebun itu berada cukup jauh dari rumah.

Jumat, 24 Januari 2014

ADZAN TERAKHIR BILAL


Manaqib - Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengumandangkan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

Selasa, 14 Januari 2014

ENGKAU TIDAK MEMILIKI SYAIKH

Manaqib - Imam Qadhu Iyadl Al Maliki menyampaikan bahwa seorang ulama yang bernama Abu Jakfar Ad Dawudi Al Asadi suatu saat melarang para ulama Qairawan semasanya untuk tinggal dan menetap wilayah di Kerajaan Badi Ubaid. Dan ia kirim surat kepada mereka perihal hal itu, namun ulama itupun membalas larangan itu,”Diamlah! Engkau adalah orang yang tidak memiliki Syeikh!”

Imam Qadhi Iyadhl menjelaskan bahwa memang Abu Jakfar belajar ilmu secara otodidak, dan tidak menuntut ilmu kepada ulama masyhur, hingga ia memperoleh pengetahuan dari apa yang diketahui dengan cara otodidak. Dan itu mengisyaratkan juga bahwa kalau seandainya ia memiliki syaikh untuk dijadikan guru maka meka ia akan memperoleh hakikat fiqh yang sesungguhnya dan tinggalnya mereka di masyarakat akan memberi manfaat. 

(Tartib Al Madarik, 3/623)

Jumat, 10 Januari 2014

AMBIL ILMU DAN AKHLAKNYA

Manaqib - Ibrahim bin Habib bin As Syahid yang merupakan perawi hadits yang tsiqah demikian juga ayahnya, menyampaikan, bahwa ayah beliau pernah berpesan,
 ”Wahai anakku, datangilah fuqaha dan ulama dan belajarlah dari mereka. Ambillah dari mereka adab dan akhlak, itu lebih aku cintai darimu daripada banyak hadits.” 
(Jami’ Adab As Sami’ wa Adab Ar Rawi, 1/80)

Selasa, 24 Desember 2013

KISAH MENJELANG WAFATNYA RASULULLAH SAW

H. Akbar
Diriwayatkan bahwa surat Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada  waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan. Rasulullah SAW berada di Arafah di atas unta. Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata: 

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus-asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-redhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa, karena kelaparan, tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang."(QS-Al-Maaidah ayat 3)

Setelah Malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah.Setelah Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata:

“Agama kita telah sempurna."Agama kila telah sempurna.”Agama kila telah sempurna.”

Tetapi Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah SAW itu,ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini keadaanmu? 

Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempurna. Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang akan menimpa kamu,  Dengan turunnya ayat tersebut  menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah SAW akan semakin dekat,Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.”

Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, “Ya Rasulullah SAW, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau.” Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka Rasulullah SAW dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra. 

Setelah Rasulullah SAW sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah SAW melihat mereka yang menangis dan bertanya, “Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?.” Kemudian Ali ra. berkata, “Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?.” Lalu Rasulullah SAW berkata: “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat”.

Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan”

Apabila ajal Rasulullah SAW makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: “Selamat datang kamu semua semoga Allah SWT mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT  Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan adalah para malaikat.

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, “Ya Rasulullah SAW anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam diri kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam saja.

sakit Rasulullah SAW bermula pada bulan safar Rasulullah SAW sakit selama 18 hari dan sering didatangi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin penyakit Rasulullah SAW bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah SAW maka Bilal ra,memberi salam, “Assalaamualaika ya rasulullah.” Lalu dijawab oleh Fathimah ra., “Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau.” 

Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka ia pun kembali ke masjid, dan ketika waktu subuh hampir habis,Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah SAW dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah SAW dan baginda berkata, “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata Rasulullah SAW maka ia pun berjalan menuju ke masjid.

Setelah ia sampai di masjid maka iapun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya  melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihat ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra.; “Wahai Fathimah apakah yang telah berjadi?. Maka Fathimah ra, sebab anda tidak pergi ke masjid. Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra, lalu Rasulullah SAW bersandar kepada mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid maka beliau pun bershalat subuh bersama dengan para jemaah.

Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia.” Setelah berkata demikian maka Rasulullah SAW pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada malaikat lzrail AS, “Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku.”

Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah SWT maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah SAW maka ia pun memberi salam, “Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?” (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) ketika Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; “Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat.” 

Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra., “Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu.” Maka Fathimah ra. pun berkata, “Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya.” 

Kemudian Rasulullah SAW berkata; “Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?.” Jawab Fathimah,”Tidak ayah.” “Dia adalah malaikat lzrail. Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya dia menangis sepuas-puasnya. ketika Rasulullah SAW mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: “Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku yang akan bertemu dengan aku.” 

Kemudian Rasulullah SAW pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, “Assalamuaalaikum ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah SAW menjawab: “Wa alaikas salam, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?” Maka berkata malaikat lzrail: “Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali.” Berkata Rasulullah SAW, “Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?” Berkata lzrail: “Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia.” Tidak beberapa lama kemudian Jibril AS pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah SAW.

Berkata Rasulullah SAW: “Sekarang aku telah puas hati” Kemudian Rasulullah SAW berkata: “Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku.” Selelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah SAW pun berkata: “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati.” Jibril AS mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW melihat itu maka Rasulullah SAW pun berkata: Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?” Jibril AS berkata: “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala anda dalam sakaratul maut?

Ali ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah SAW berkata: “Umatku, umatku.” saudaraku semua mari renungkan cerita diatas Rosul saw kekasih Alloh swt ketika beliau sakaratul maut masih memikirkan kita dan mencintai kita beliau  menutup usia dengan mengucap umatku-umatku begitu besar cinta beliau kepada kita. sudahkah kita berusaha membahagiakan beliau?

Sabtu, 21 Desember 2013

TAK PERLU SALING MENCACI

H. Akbar

Abu Hatim Ath-Thabari mengisahkan bahwa suatu saat beliau mendengar pernyataan Abu Bakr Asy Syibli,”Jika engkau ingin melihat dunia maka lihatlah tempat sampah, maka itu adalah dunia. 

Jika engkau ingin melihat dirimu, maka ambillah segenggam tanah, sesungguhnya engkau darinya diciptakan, dan kepadanya kembali, serta darinya engkau keluar. 

Jika engkau ingin melihat, apa sebenarnya dirimu, maka lihatlah apa yang keluar darimu saat engkau ke tempat buang hajat. Jika keadaanmu demikian maka tidak boleh mencaci dan bertakabbur terhadap yang serupa denganya.”

Rabu, 18 Desember 2013

PENTINGNYA TAWADLU UNTUK MEMAHAMI ILMU


H. Akbar

Syeikh Hasan Hitu, salah satu ulama Syafi’iyah Syam mengisahkan kisah salah satu guru beliau di Al Azhar As Syarif, yang mana di saat membaca teks bab muammalat dari salah satu kitab fiqih menemui ungkapan,”Dan diharamkan menjual barambalul bi barambalul.” Ungkapan itu sulit dipahami, hingga beliau perlu membuka beberapa kitab kamus dan mu’jam serta mengkaji beberapa kitab syarah. Namun tidak ada hasilnya, dan beliau akhirnya menyerah.

Akhirnya guru Syeikh Hasan Hitu tersebut menanyakan ungkapan itu kepada guru beliau. Sang guru pun menjawab,”Wahai anakku, tidak seorang pun mengambil ilmu dari buku-tanpa guru-, kacuali ia tersesat, maka perlu ada guru. Kalau seandainya dengan kitab saja cukup tanpa perlu guru untuk menjelaskannya, maka Allah tidak akan mengutus para rasul untuk menjelaskan kitab dan menyampaikannya. Dan Allah tidak mengambil janji dari mereka yang memperoleh kitab untuk disampaikan kepada manusia. Dan Allah tidak mencambuk dengan cambuk dari api kepada siapa saja yang menyembunyikan ilmu padahal buku-buku ilmu berada di mana-mana.”

Sang guru pun menjelaskan apa yang ditanya sang murid,”Wahai anakku, ungkapan yang benar adalah,’Diharamkan menjual burr mablul (gandum basah) bi burr mablul (dengan gandum basah). Dan masalah ini tidak membutuhkan kamus, mu’jam, serta kitab-kitab syarh. Namun ia membutuhkan ketawadhu’an seperti ketawadhu’anmu hingga engkau bertanya kepadaku.” (Al Mutafaihiqun, 34-35)

Senin, 16 Desember 2013

ISTIGHFAR SEBAGAI SOLUSI

H. Akbar

Imam Abu Hanifah Rahimahullah jika merasa kesulitan dalam memecahkan suatu masalah maka beliau mengatakan kepada para sahabatnya,”Ini tidak lain karena dosa yang aku lakukan.” Dan beliau beristighfar dan terkadang melaksanakan shalat, hingga terbuka bagi beliau permasalahan itu dan manyatakan,”Aku mengharapkan aku telah diampuni.”

Apa yang biasa dilakukan Abu Hanifah itu akhirnya sampai kepada Fudhail bin Iyadh. Maka beliau langsung menangis tersedu-sedu hingga mangatakan,”Itu karena sedikitnya dosa beliau. Adapun orang lain tidak akan merasakan hal itu.” (Thabaqat Al Hanafiya, Ali Al Qari, 2/487)

Jika imam besar seperti Abu Hanifah melakukan amalan di atas ketika menghadapi kesulitan, bagaimana dengan kita?