Manaqib - Dalam kitab /Shahihain/ disebutkan Nabi SAW senantiasa menunaikan shalat
malam, hingga membuat kedua telapak kaki beliau bengkak. Melihat hal itu,
Siti Aisyah RA bertanya, "Mengapa engkau melakukannya, ya, Rasulullah,
padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang
terkemudian?" Nabi pun menjawab, "Tidak bolehkah aku bila menjadi
seorang hamba yang banyak bersyukur?" (HR Bukhari)
Kisah di atas penuh dengan nilai keteladanan. Rasulullah SAW yang memiliki
kedudukan mulia di hadapan Allah SWT dan segenap manusia, tidak lantas
berjumawa dan lupa diri. Sebaliknya, Nabi tak melupakan nikmat yang diberikan
kepadanya, dan mensyukuri karunia Allah itu sepanjang waktu.
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Oktober 2014
Minggu, 03 Agustus 2014
DAKWAH NABI YUNUS BERJAYA KETIKA DIA MERASA TAK BERDAYA
Manaqib - Di antara hikmah yang selalu melekat pada setiap musibah adalah pertanyaan,
“Apa kesalahanku sehingga cobaan ini menimpa?” Selanjutnya, memang kepekaan
hatilah yang menentukan jawab dan tindakan yang akan diambil. Maka
berbahagialah yang segera merundukkan diri di hadapan keagungan Allah , serta
berlirih-lirih mengadukan kelemahan, kesilapan, dan kehinaan.
“Allah menciptakan manusia”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam Al Mustafaad min Qashashil Quran, “Dengan menggariskan baginya bahwa berbuat keliru dan jatuh dalam kesalahan adalah perkara yang mungkin, bahkan niscaya.” Tapi dengan kasihNya, Allah juga membukakan pintu agar dosa-dosa menjadi jalan kembali dan pelarian suci, tempat bersimpuh dan sandaran berteduh, mahligai yang syahdu bagi bermesra, meminta, dan beroleh karunia.
“Allah menciptakan manusia”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam Al Mustafaad min Qashashil Quran, “Dengan menggariskan baginya bahwa berbuat keliru dan jatuh dalam kesalahan adalah perkara yang mungkin, bahkan niscaya.” Tapi dengan kasihNya, Allah juga membukakan pintu agar dosa-dosa menjadi jalan kembali dan pelarian suci, tempat bersimpuh dan sandaran berteduh, mahligai yang syahdu bagi bermesra, meminta, dan beroleh karunia.
Selasa, 25 Maret 2014
MENGATAKAN 'TIDAK TAHU' TAK MEMBUATMU MALU
Manaqib - Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya
sampailah ia ke tempat yang dituju. Tak sabar lagi baginya untuk segera
menemui orang yang selama ini ia cari. Sosok yang selama ini membuat
kagum orang-orang di kampungnya.
Kini ia sudah di hadapannya. Ia ajukan beberapa pertanyaan yang dititip orang-orang di kampungnya. Tapi, apa hendak di kata, dari enam puluh sekian pertanyaan yang dibawa, ia cuma bisa menjawab tiga pertanyaan. Sedangkan sisanya, hanya dijawab, “Allahu a’lam (Allahlah Yang Maha Tahu).” Ia pun kecewa. Sosok yang yang selama ini dielu-elukan orang-orang di kampungnya ternyata seperti ini keadaannya. Ia pun berkata, “Anda adalah Imam Malik, tapi Anda berkata, ‘Saya tidak tahu?! ”
Kini ia sudah di hadapannya. Ia ajukan beberapa pertanyaan yang dititip orang-orang di kampungnya. Tapi, apa hendak di kata, dari enam puluh sekian pertanyaan yang dibawa, ia cuma bisa menjawab tiga pertanyaan. Sedangkan sisanya, hanya dijawab, “Allahu a’lam (Allahlah Yang Maha Tahu).” Ia pun kecewa. Sosok yang yang selama ini dielu-elukan orang-orang di kampungnya ternyata seperti ini keadaannya. Ia pun berkata, “Anda adalah Imam Malik, tapi Anda berkata, ‘Saya tidak tahu?! ”
Minggu, 23 Maret 2014
KISAH HIDUP TERINDAH
Manaqib -
“Makna senyuman tidak akan sempurna tanpa pernah bersentuhan dengan makna air mata, begitu juga sebaliknya. Indahnya kehidupan tidaklah terletak pada seberapa lama kita berada dalam zona yang menyenangkan, melainkan pada nilai yang kita pegang teguh dan kita capai dalam setiap episode, termasuk episode yang melambangkan penderitaan.”
“Makna senyuman tidak akan sempurna tanpa pernah bersentuhan dengan makna air mata, begitu juga sebaliknya. Indahnya kehidupan tidaklah terletak pada seberapa lama kita berada dalam zona yang menyenangkan, melainkan pada nilai yang kita pegang teguh dan kita capai dalam setiap episode, termasuk episode yang melambangkan penderitaan.”
Kisah Nabi
Yusuf dinyatakan Allah sebagai kisah terindah (ahsan al-qashash) karena episode
kehidupannya sangatlah lengkap mulai dari ujian menuju pujian, dari cinta
bertepuk sebelah tangan sampai cinta bak gayung bersambut, dari terhina menjadi
mulia, serta mulai dari hal yang biasa menjadi hal luar biasa.
Minggu, 26 Januari 2014
KERINDUAN DARI PERSIA
Manaqib - Aku berasal
dari Persia, tepatnya Ashfahan. Ayahku adalah seorang yang kaya-raya dan
ternama. Aku orang yang paling dicintainya di dunia ini. Bahkan saking
cintanya, aku tidak pernah diperbolehkan keluar dari rumah. Aku penganut agama
Majusi yang sangat taat. Aku mengabdi kepada api, tidak pernah aku
membiarkannya redup barang sebentar.
Perjalanan
hidupku sangat panjang dan berliku hingga aku bisa seperti ini sekarang. Perjalanan itu bermula pada suatu pagi. Pagi itu ayahku sibuk hingga tidak bisa
menengok kebunnya yang luas. Aku diminta untuk menengoknya. Kebun itu berada
cukup jauh dari rumah.
Jumat, 24 Januari 2014
ADZAN TERAKHIR BILAL
Manaqib - Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengumandangkan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”
Selasa, 14 Januari 2014
ENGKAU TIDAK MEMILIKI SYAIKH
Manaqib - Imam Qadhu Iyadl Al Maliki menyampaikan bahwa seorang ulama yang
bernama Abu Jakfar Ad Dawudi Al Asadi suatu saat melarang para ulama
Qairawan semasanya untuk tinggal dan menetap wilayah di Kerajaan Badi
Ubaid. Dan ia kirim surat kepada mereka perihal hal itu, namun ulama
itupun membalas larangan itu,”Diamlah! Engkau adalah orang yang tidak
memiliki Syeikh!”
Imam Qadhi Iyadhl menjelaskan bahwa memang Abu Jakfar belajar ilmu secara otodidak, dan tidak menuntut ilmu kepada ulama masyhur, hingga ia memperoleh pengetahuan dari apa yang diketahui dengan cara otodidak. Dan itu mengisyaratkan juga bahwa kalau seandainya ia memiliki syaikh untuk dijadikan guru maka meka ia akan memperoleh hakikat fiqh yang sesungguhnya dan tinggalnya mereka di masyarakat akan memberi manfaat.
(Tartib Al Madarik, 3/623)
Imam Qadhi Iyadhl menjelaskan bahwa memang Abu Jakfar belajar ilmu secara otodidak, dan tidak menuntut ilmu kepada ulama masyhur, hingga ia memperoleh pengetahuan dari apa yang diketahui dengan cara otodidak. Dan itu mengisyaratkan juga bahwa kalau seandainya ia memiliki syaikh untuk dijadikan guru maka meka ia akan memperoleh hakikat fiqh yang sesungguhnya dan tinggalnya mereka di masyarakat akan memberi manfaat.
(Tartib Al Madarik, 3/623)
Jumat, 10 Januari 2014
AMBIL ILMU DAN AKHLAKNYA
Manaqib - Ibrahim bin Habib bin As Syahid yang merupakan perawi hadits yang tsiqah
demikian juga ayahnya, menyampaikan, bahwa ayah beliau pernah
berpesan,
”Wahai anakku, datangilah fuqaha dan ulama dan belajarlah dari mereka. Ambillah dari mereka adab dan akhlak, itu lebih aku cintai darimu daripada banyak hadits.”
(Jami’ Adab As Sami’ wa Adab Ar Rawi, 1/80)
”Wahai anakku, datangilah fuqaha dan ulama dan belajarlah dari mereka. Ambillah dari mereka adab dan akhlak, itu lebih aku cintai darimu daripada banyak hadits.”
(Jami’ Adab As Sami’ wa Adab Ar Rawi, 1/80)
Selasa, 24 Desember 2013
KISAH MENJELANG WAFATNYA RASULULLAH SAW
H. Akbar
Diriwayatkan bahwa surat
Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada waktu
asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan. Rasulullah SAW berada di Arafah
di atas unta. Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta
beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan
berkata:
حُرِّمَتْ
عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ
اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ
وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ
إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا
ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ
تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ
الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا
تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ
مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Diharamkan bagimu (memakan)
bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain
Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam
binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu)
yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak
panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini
orang-orang kafir telah putus-asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu
janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-redhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa, karena
kelaparan, tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, lagi
Maha Penyayang."(QS-Al-Maaidah ayat 3)
Setelah Malaikat Jibril AS pergi
maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah.Setelah
Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun
menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS. Apabila para
sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata:
“Agama kita telah
sempurna."Agama kila telah sempurna.”Agama kila telah sempurna.”
Tetapi Abu Bakar ra. mendengar
keterangan Rasulullah SAW itu,ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun
kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra.
menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah
sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan
rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: Wahai Abu Bakar, apakah yang telah
membuat kamu menangis sehingga begini keadaanmu?
Seharusnya kamu merasa gembira
sebab agama kita telah sempurna. Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka
Abu Bakar ra. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang
musibah yang akan menimpa kamu, Dengan
turunnya ayat tersebut menunjukkan
perpisahan kita dengan Rasulullah SAW akan semakin dekat,Hasan dan Husin
menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.”
Selelah mereka mendengar
penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu
Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah
didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu
Rasulullah SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari
para sahabat, “Ya Rasulullah SAW, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra.
dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah
beliau.” Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka Rasulullah
SAW dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.
Setelah Rasulullah SAW
sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah SAW melihat mereka yang menangis
dan bertanya, “Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?.” Kemudian
Ali ra. berkata, “Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya
ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya
Rasulullah?.” Lalu Rasulullah SAW berkata: “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar
ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua
telah dekat”.
Setelah Abu Bakar ra. mendengar
pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia
jatuh pingsan”
Apabila ajal Rasulullah SAW makin
dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau
berkata: “Selamat datang kamu semua semoga Allah SWT mengasihi kamu semua, saya
berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan
mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan
kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada
Allah SWT Kalau telah sampai ajalku maka
hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan
Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku
dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku
dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu
letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu
semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan adalah para
malaikat.
Setelah para sahabat mendengar
ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang
keras dan berkata, “Ya Rasulullah SAW anda adalah seorang Rasul yang diutus
kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam
diri kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda
sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul
nanti?.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Dengarlah para sahabatku, aku
tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah
aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai
bicara dan yang satu lagi diam saja.
sakit Rasulullah SAW bermula pada
bulan safar Rasulullah SAW sakit selama 18 hari dan sering didatangi oleh para
sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari
Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin penyakit Rasulullah SAW
bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun
pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah SAW
maka Bilal ra,memberi salam, “Assalaamualaika ya rasulullah.” Lalu dijawab oleh
Fathimah ra., “Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau.”
Setelah Bilal
ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka ia pun kembali ke masjid, dan
ketika waktu subuh hampir habis,Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah SAW
dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di
dengar oleh Rasulullah SAW dan baginda berkata, “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya
penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan
shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata
Rasulullah SAW maka ia pun berjalan menuju ke masjid.
Setelah ia sampai di masjid maka
iapun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan
kepadanya Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya melihat mimbar kosong maka dengan suara yang
keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihat ini maka riuh
rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada
Fathimah ra.; “Wahai Fathimah apakah yang telah berjadi?. Maka Fathimah ra,
sebab anda tidak pergi ke masjid. Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali ra. dan
Fadhl bin Abas ra, lalu Rasulullah SAW bersandar kepada mereka dan terus pergi
ke masjid. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid maka beliau pun bershalat
subuh bersama dengan para jemaah.
Setelah selesai shalat subuh maka
Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam
pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa
kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan
meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di
akhirat dan hari terakhir aku di dunia.” Setelah berkata demikian maka
Rasulullah SAW pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada
malaikat lzrail AS, “Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan
sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu
melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya
maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah
kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu
kembali padaku.”
Setelah malaikat lzrail mendapat
perintah dari Allah SWT maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang
Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah SAW maka
ia pun memberi salam, “Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir
risaalati a adkhulu?” (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua
sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?)
ketika Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; “Wahai hamba
Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat.”
Kemudian
malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan
malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW bertanya
kepada Fathimah ra., “Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu.” Maka
Fathimah ra. pun berkata, “Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu,
dan aku telah katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya
dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya.”
Kemudian
Rasulullah SAW berkata; “Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?.”
Jawab Fathimah,”Tidak ayah.” “Dia adalah malaikat lzrail. Fathimah ra. tidak
dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan
ayahandanya dia menangis sepuas-puasnya. ketika Rasulullah SAW mendengar
tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: “Janganlah kamu menangis wahai
Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku yang akan bertemu
dengan aku.”
Kemudian Rasulullah SAW pun mengizinkan malaikat lzrail masuk.
Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, “Assalamuaalaikum ya
Rasulullah.” Lalu Rasulullah SAW menjawab: “Wa alaikas salam, wahai lzrail
engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?” Maka berkata malaikat
lzrail: “Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu,
itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali.”
Berkata Rasulullah SAW, “Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?”
Berkata lzrail: “Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang
memuliakan dia.” Tidak beberapa lama kemudian Jibril AS pun turun dan duduk di
dekat kepala Rasulullah SAW.
Berkata Rasulullah SAW: “Sekarang
aku telah puas hati” Kemudian Rasulullah SAW berkata: “Wahai lzrail,
mendekatlah kamu kepadaku.” Selelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya,
apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah SAW pun berkata: “Wahai
Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati.” Jibril AS mengalihkan pandangan dari
Rasulullah SAW melihat itu maka Rasulullah SAW pun berkata: Wahai Jibril,
apakah kamu tidak suka melihat wajahku?” Jibril AS berkata: “Wahai kekasih
Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala anda dalam sakaratul
maut?
Ali ra. berkata: “Sesungguhnya
Rasulullah SAW ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua
bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan
Rasulullah SAW berkata: “Umatku, umatku.” saudaraku semua mari renungkan cerita
diatas Rosul saw kekasih Alloh swt ketika beliau sakaratul maut masih
memikirkan kita dan mencintai kita beliau
menutup usia dengan mengucap umatku-umatku begitu besar cinta beliau
kepada kita. sudahkah kita berusaha
membahagiakan beliau?
Sabtu, 21 Desember 2013
TAK PERLU SALING MENCACI
H. Akbar
Abu Hatim Ath-Thabari mengisahkan bahwa suatu saat beliau mendengar pernyataan Abu Bakr Asy Syibli,”Jika engkau ingin melihat dunia maka lihatlah tempat sampah, maka itu adalah dunia.
Jika engkau ingin melihat dirimu, maka ambillah segenggam tanah, sesungguhnya engkau darinya diciptakan, dan kepadanya kembali, serta darinya engkau keluar.
Jika engkau ingin melihat, apa sebenarnya dirimu, maka lihatlah apa yang keluar darimu saat engkau ke tempat buang hajat. Jika keadaanmu demikian maka tidak boleh mencaci dan bertakabbur terhadap yang serupa denganya.”
Abu Hatim Ath-Thabari mengisahkan bahwa suatu saat beliau mendengar pernyataan Abu Bakr Asy Syibli,”Jika engkau ingin melihat dunia maka lihatlah tempat sampah, maka itu adalah dunia.
Jika engkau ingin melihat dirimu, maka ambillah segenggam tanah, sesungguhnya engkau darinya diciptakan, dan kepadanya kembali, serta darinya engkau keluar.
Jika engkau ingin melihat, apa sebenarnya dirimu, maka lihatlah apa yang keluar darimu saat engkau ke tempat buang hajat. Jika keadaanmu demikian maka tidak boleh mencaci dan bertakabbur terhadap yang serupa denganya.”
Rabu, 18 Desember 2013
PENTINGNYA TAWADLU UNTUK MEMAHAMI ILMU
H. Akbar
Syeikh Hasan Hitu, salah satu ulama Syafi’iyah Syam mengisahkan kisah salah satu guru beliau di Al Azhar As Syarif, yang mana di saat membaca teks bab muammalat dari salah satu kitab fiqih menemui ungkapan,”Dan diharamkan menjual barambalul bi barambalul.” Ungkapan itu sulit dipahami, hingga beliau perlu membuka beberapa kitab kamus dan mu’jam serta mengkaji beberapa kitab syarah. Namun tidak ada hasilnya, dan beliau akhirnya menyerah.
Akhirnya guru Syeikh Hasan Hitu tersebut menanyakan ungkapan itu kepada guru beliau. Sang guru pun menjawab,”Wahai anakku, tidak seorang pun mengambil ilmu dari buku-tanpa guru-, kacuali ia tersesat, maka perlu ada guru. Kalau seandainya dengan kitab saja cukup tanpa perlu guru untuk menjelaskannya, maka Allah tidak akan mengutus para rasul untuk menjelaskan kitab dan menyampaikannya. Dan Allah tidak mengambil janji dari mereka yang memperoleh kitab untuk disampaikan kepada manusia. Dan Allah tidak mencambuk dengan cambuk dari api kepada siapa saja yang menyembunyikan ilmu padahal buku-buku ilmu berada di mana-mana.”
Sang guru pun menjelaskan apa yang ditanya sang murid,”Wahai anakku, ungkapan yang benar adalah,’Diharamkan menjual burr mablul (gandum basah) bi burr mablul (dengan gandum basah). Dan masalah ini tidak membutuhkan kamus, mu’jam, serta kitab-kitab syarh. Namun ia membutuhkan ketawadhu’an seperti ketawadhu’anmu hingga engkau bertanya kepadaku.” (Al Mutafaihiqun, 34-35)
Senin, 16 Desember 2013
ISTIGHFAR SEBAGAI SOLUSI
H. Akbar
Imam Abu Hanifah Rahimahullah jika merasa kesulitan dalam memecahkan suatu masalah maka beliau mengatakan kepada para sahabatnya,”Ini tidak lain karena dosa yang aku lakukan.” Dan beliau beristighfar dan terkadang melaksanakan shalat, hingga terbuka bagi beliau permasalahan itu dan manyatakan,”Aku mengharapkan aku telah diampuni.”
Apa yang biasa dilakukan Abu Hanifah itu akhirnya sampai kepada Fudhail bin Iyadh. Maka beliau langsung menangis tersedu-sedu hingga mangatakan,”Itu karena sedikitnya dosa beliau. Adapun orang lain tidak akan merasakan hal itu.” (Thabaqat Al Hanafiya, Ali Al Qari, 2/487)
Jika imam besar seperti Abu Hanifah melakukan amalan di atas ketika menghadapi kesulitan, bagaimana dengan kita?
Imam Abu Hanifah Rahimahullah jika merasa kesulitan dalam memecahkan suatu masalah maka beliau mengatakan kepada para sahabatnya,”Ini tidak lain karena dosa yang aku lakukan.” Dan beliau beristighfar dan terkadang melaksanakan shalat, hingga terbuka bagi beliau permasalahan itu dan manyatakan,”Aku mengharapkan aku telah diampuni.”
Apa yang biasa dilakukan Abu Hanifah itu akhirnya sampai kepada Fudhail bin Iyadh. Maka beliau langsung menangis tersedu-sedu hingga mangatakan,”Itu karena sedikitnya dosa beliau. Adapun orang lain tidak akan merasakan hal itu.” (Thabaqat Al Hanafiya, Ali Al Qari, 2/487)
Jika imam besar seperti Abu Hanifah melakukan amalan di atas ketika menghadapi kesulitan, bagaimana dengan kita?
Langganan:
Postingan
(
Atom
)










