RANGGEUYAN MUTIARA : (1) ulah ngewa ka ulama anu sajaman (2) ulah nyalahkeun kana pangajaran batur (3) ulah mariksa murid batur (4) ulah medal sila upama kapanah - KUDU ASIH KA JALMA NU MIKANGEWA KA MANEH - Pangersa Guru Almarhum
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Oktober 2014

DAHULUKAN IBADAH SEBELUM MINTA TOLONG

Manaqib - Dalam surat Al-Fatihah, kita baca ikrar diri kita kepada Allah dalam ayat "KepadaMu kami menyembah dan kepadaMu kami mohon pertolongan."

Dalam tafsir al-Baidlawi disebutkan bahwa didahulukannya ibadah atas isti'anah (meminta pertolongan) agar supaya dipahami bahwa mendahulukan wasilah (ibadah/pengabdian) sebelum memohon suatu keperluan (hajat) adalah lebih mempercepat tercapainya harapan dan tujuan.

Kamis, 31 Juli 2014

LAFAZH BASMALAH ITU PENDEK TETAPI MEMPUNYAI KEDALAMAN MAKNA

Manaqib - Suatu ketika Rasulullah bersabda, ''Apa pun yang dikerjakan, bacalah Bismillahir rahmanir rahim (Dengan atau atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).''
Setiap kali mengawali surah, kecuali surah at-Taubah, Rasulullah SAW berdasarkan petunjuk-Nya selalu membaca basmalah.


Ternyata, para nabi sebelum Nabi Muhammad juga familier dengan lafaz basmalah, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat.

Ketika Nabi Nuh membuat perahu di puncak gunung, kemudian banjir bandang datang, ia menggerakkan perahunya dengan lafaz basmalah (Bismillahi majraha wa mursaha. QS Hud/11:41).

SETIAP SATU KESULITAN TERDAPAT DUA KEMUDAHAN

Manaqib - “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. 94: 5-6)

Imam al-Baghawi, Imam al-Ma’iny dan Syeikh Muhyiddin ad-Darwisy menyebutkan bahwa, “Isim nakirah jika disebut dua kali maka yang kedua tidaklah sama dengan yang pertama. Namun, jika isim makrifat disebut dua kali maka yang kedua sama dengan yang pertama.”

(Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Vol. IV, hlm. 470, Muhyiddin ad-Darwisy, I’rabu al-Qur`an al-Karim wa Bayanuhu, Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet. IX, 2005 M-1426 H, Vol. VIII,hlm. 353)

Selasa, 11 Februari 2014

PRIORITAS AMAL

Manaqib - Di dalam Al-Qur’an seringkali Allah سبحانه و تعالى menyatakan bahwa Allah سبحانه و تعالى pasti membalas seorang hamba sebagai ganjaran atas amal-perbuatan yang telah dilakukannya. Perbuatan apapun, apakah berupa sebuah amal baik maupun amal buruk, kedua-duanya pasti bakal diberi ganjaran oleh Allah سبحانه و تعالى .
 
أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيها جَزَاءً بِما كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Ahqaf 14)

فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS At-Taubah 95)

Kamis, 23 Januari 2014

KAPAN PERTOLONGAN ALLAH ITU DATANG

Manaqib - Kapankah pertolongan Allah itu datang? padahal lebih dari 5 ribu syuhada yang gugur, lebih dari 10 ribu orang dipenjara dan 20 ribu korban luka-luka.

Pertanyaan yang dilontarkan orang-orang mukmin yang benar-benar berjihad dan mengorbankan seluruh harta bahkan jiwanya untuk dakwah ini, sangat manusiawi . Apakah pertolongan Allah itu datang terlambat? kenapa? dan apa penyebabnya? kapankah pertolongan Allah itu hadir di hadapan kita?

Minggu, 19 Januari 2014

BENCANA ALAM DALAM KISAH AL-QURAN

Manaqib - Sebagai manusia berakidah, tentunya kita tidak bisa melewatkan begitu saja bila terjadi sebuah bencana. Ada banyak pesan yang dititipkan fenomena alam jika terlihat tidak bersahabat. Karena ternyata alam diciptakan dengan sistem sangat sempurna. Telah sekian milyar tahun semua berjalan dengan dinamis. Hukum sangat dihormati, hingga kenyamanan dan kedamaian pun tercipta. Bila terlihat sebuah perubahan, pasti karena pihak lain. Tangan yang dengan sadar atau tidak, melanggar hukum lalu merusak tatanan serasi alam. (Ar-Rum: 41).

Sabtu, 21 Desember 2013

MENAFAKURI MATAHARI

H. Akbar

 “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,” (QS. asy-Syams: 1)


Tatkala Allah bersumpah atas nama makhluk-Nya, itu menandakan makhluk tersebut memiliki posisi yang amat penting dalam kehidupan. Pun begitu dengan matahari. Terbayangkah apa yang terjadi pada kehidupan ini bila tak ada matahari?


Maka, mari sejenak kita mentafakkuri (memikirkan) serta mentadabburi (merenungi) perihal matahari. Bukankah Allah ciptakan ia juga sebagai bahan pembelajaran bagi kita?


“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),” (QS. an-Nahl: 12)

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl: 17)


Apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari matahari?


Pertama, matahari tahu kapan harus terbit dan kapan harus tenggelam. Proporsional. Tidak show off berlebihan. Ini mengajarkan kepada kita untuk tahu diri, tidak serakah, tahu kapan harus bertindak di depan umum dan kapan harus diam di balik layar, tidak mengambil jatah kesempatan orang lain untuk berbuat.

Kedua, matahari punya kedisplinan yang tinggi. Ia tidak pernah terlambat terbit dan tenggelam. Jadwalnya telah tertata rapi, tetap terjaga. Selain itu, ia beredar sesuai garis edarnya. Bisa dikatakan, matahari itu disiplin waktu dan dispilin tempat.


“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaasin: 40)


Dari sini kita bisa belajar kedispilinan dan menjaga waktu yang kita miliki. Tidak terlambat dan tidak menunda dalam hal apapun.


Di sisi lain, kita pun perlu berusaha untuk tetap berada di ‘garis edar’ kehidupan, yakni apa yang Allah firmankan dalam al-Qur’an dan apa yang Rasulullah Saw ajarkan dalam as-Sunnah. Terbayangkah apa jadinya bila tata surya ini keluar dari garis edarnya dan berevolusi seenaknya? Pasti hancur! Ya, seperti itu pula yang terjadi bila manusia hidup seenaknya dan keluar dari ‘garis edar’ yang telah Allah gariskan. Hancur!


Garis edar matahari juga mengajarkan kita untuk proporsional dalam menjalani kehidupan, tidak berlebih-lebihan (ekstrem kanan) dan tidak pula mudah menggampangkan atau menyepelekan (ekstrem kiri). Pertengahan saja. Seperti matahari, ia tidak terlalu jauh tapi tidak pula terlalu dekat dari bumi. Jaraknya tepat. Itulah yang membuatnya selalu menghangatkan. Maka jadilah pribadi pertengahan, yang tidak possesive tapi juga tidak teramat cuek.


Ketiga, kehadiran matahari itu memberikan manfaat yang besar. Keberadaannya membantu proses fotosintesis dedaunan, memungkinkan penguapan air pada siklus hujan, dan lain sebagainya. Seyogyanya begitu pula seharusnya kita, berbeda antara ada dan tiadanya. Adanya menjadi sumber manfaat bagi sekelilingnya, sehingga tatkala ia tidak ada, mereka merindukannya, seolah ada sesuatu yang hilang.


Keempat, matahari memberikan sinarnya tidak pandang bulu. Seluruh sisi bumi mendapatkan sentuhan hangatnya. Inilah makna keikhlasan. Memberi tanpa memandang yang diberi. Maka semoga kita pun demikian, memberikan kebermanfaatan secara luas.


Kelima, untuk dapat bersinar, matahari memiliki kandungan gas yang sangat besar. Gas tersebut terus terbakar hingga habis saat Kiamat tiba. Apa pelajarannya? Tentu agar kita bisa memberi manfaat yang besar, ‘kandungan kapasitas’ kita pun harus besar. Maka asahlah kemampuan kita. Perbanyak keilmuan dan wawasan kita. Dengan begitu, kita menjadi lebih ‘tajam’ dan lebih berguna daripada mereka yang ‘tumpul’.


Terakhir, mari kita berdoa,


“Allahumma nawwir quluubana binuuri hidayatika, kama nawwartal ardha binuuri syamsika abadan abada, birohmatika yaa arhamar raahimiin.”


(Ya Allah, pancarkanlah cahaya kepada hati kami dengan cahaya hidayahmu, sebagaimana Engkau cahayai bumi dengan mataharimu selama-lamanya, dengan kasih sayang-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.)

Kamis, 19 Desember 2013

MENIRU AZAS MANFAAT DARI LEBAH

H. Akbar

Lebah yang merupakan salah satu mahluk terindah dan sempurna yang diciptakan Allah ternyata banyak mengandung kikmah yang bisa kita pelajari.

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah untuk menjadikan gunung, pepohonan, dan tempat tinggal sebagai tempat bersarang.” (QS. an-Nahl [16]:68)

مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 69)

Ibarat seorang pekerja yang bekerja banting tulang, kerja keras setiap hari,dengan penghasilan yang begitu berlimpah, namun pekerja tadi hanya mengambil 10% dari pendapatanya, 90% nya ia berikan kepada orang lain, pertanyaannya mampukah banyak orang atau kita sendiri mau melakukan hal itu?

Jawabannya mungkin ada dan sebagian kecil mungkin, sangat kecil, namun hal ini ternyata tidak berlaku pada lebah, dari total konsumsi lebah, ternyata hanya 10% produksi madu dari Sang Lebah tadi yang mereka konsumsi sendiri, artinya 90% hasil produksi mereka, mereka “sedekah” kan untuk siapa? Untuk Manusia.

Kesimpulannya? Lebah memang diciptakan Allah untuk melayani manusia, sehingga sangat tidak bersyukur, kita sudah di fasilitasi Allah melalui lebah ini melalui madu untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Namun, di luar itu semua, sungguh lebah begitu banyak memikirkan orang lain, mereka lebih banyak memikirkan bagaimana memberi dan berbagi untuk orang lain khususnya manusia dengan produk produk mereka, Subhanallah.

Adakah dari kita yang mau dan mampu berbagi 90% dari apa yang kita dapatkan? mungkin belum lah kita seperti keikhalasan lebah tapi ternyata salah satu Sahabat Rasulullah berani memberi untuk Allah dan RasulNya dengan memberi seluruh kekayaanya (100%) , dialah Abubakar Radiyallahu anhu.

Mari kita meniru azas manfaat dari lebah agar kita menjadi manusia yang lebih banyak memikirkan orang lain dan berbagi kepada orang lain dan itu semua menjadikan justru semakin bahagia, sehat dan kaya, percayalah.